Minggu, 24 Maret 2019

Tak Kunjung Mereda

Angin yang menerpa wajahku tak kusadari juga menyamarkan suaramu. Meski tak begitu kencang motor ini kau pacu. Lampu jalan yang membias kuning akan menjadi kenangan yang selalu ku ingat. Karenanya pelukan ini segera ku pererat. Bersamamu aku merasa hangat.

Malam ini Tuhan tak mengizinkanku menikmatinya. Dia memberi hujan deras secara tiba-tiba. Para pengendara motor langsung berbelok ke kiri untuk meneduh. Segera berganti pakaian dengan jas hujan lalu kembali jalan. Tapi aku tahu kamu tak pernah membawa jas hujan. Kau lebih memilih untuk berteduh, atau menikmati hujan membasahi sekujur tubuh.

Hujan ini membuatku kesal. Maka malam ini aku tak akan berhenti membual. Tapi kata-katamu membuat aku percaya. Aku percaya padamu bahwa hujan akan segera reda. Ucapanmu tak pernah mesra untuk berbagai suasana. Tapi mampu membuatku selalu percaya. Kamu juga yang bercerita cinta itu saling percaya, kan?

Entah bagaimana hujan ini tak kunjung mereda. Sudah dua jam kita menunggu, bersama leluconmu untuk membuatku selalu tertawa. Aku tidak apa-apa, asalkan bersamamu kurasa itu lebih dari cukup. Bukan kamu yang memutuskan kapan terjadi hujan. Kamu tidak usah merasa bersalah.

Menatap air yang turun membasahi jalan membuatku merasa bosan. Tapi matamu masih memandang tajam seolah penasaran. Tubuhku tak sekuat tubuhmu. Rasa kantuk ini sudah mulai memburu. Dan dingin mulai datang dari segala penjuru.

Aku hanya ingin menyandarkan kepala pada pundakmu. Yang tak ku sangka kau malah merentangkan tangan dan membuat kepalaku jatuh di dadamu. Kedua tanganmu memeluk ku dari belakang sekarang. Pelukanmu sudah lebih dari membuatku merasa nyaman. Dirimu sederhana dan apa adanya tak ada habisnya membuatku heran.

Mataku tak akan lama segera terpejam. Detak jantungmu yang kuat dan mantab, terdengar jelas di telingaku. Maka aku berharap dirimu untuk tidak pernah pergi. Tetaplah menemani dan seperti ini. Karena dirimu adalah tempat pulangnya hati.

Ku panjatkan semua doa pada hujan yang tak kunjung reda.