Pada dasarnya aku lebih menyukai hari di waktu malam. Beraktivitas saat hari sudah gelap membawa ketenangan untuk ku. Berpikir saat suasana begitu hening menarik ku hingga merasa nyaman. Hari akan membaik saat malam tiba. Karena kurasa malam itu mesra.
Pada ujung hari yang sunyi, aku akan bernyanyi tanpa resah. Tentang manusia yang terjebak dalam penjara perasaan, lalu mereka merasa lelah. Lelah dengan apa yang mengaburkan dirinya, lelah dengan rutinitas yang membosankan dirinya. Lelah karena semuanya tak pernah berakhir.
Lalu aku akan menatap pada langit-langit kamar yang mulai lapuk. Merenungi sebuah perjalanan dengan awal yang selalu terlambat. Bagaimana waktu selalu memburu, bagaimana ambisi menjadikan hati mati. Aku membuat kesalahan, maka jadikanlah aku kambing hitam.
Pada ujung hari yang sepi, aku berharap tentang semua yang ku perjuangkan. Diam saja tak akan mengubah penderitaan. Melepas sumpah serapah bukanlah suatu sikap yang jantan. Tapi berusaha menembus batas, berjuang hingga penghabisan.
Maka setelahnya, perjuangan akan menemui penerusnya yaitu harapan. Aku berharap, apa yang aku bela akan menemui ujung yang indah. Aku berharap, agar semua masalah yang terus menerus menggerus segera diselesaikan. Aku berharap, setelah berjuang akan kehilangan rasa gelisah.
Pada ujung hari, aku tetap memandang ke arah rembulan. Bersinar terang pada latar hitam yang dihiasi gugusan bintang. Tak begitu beragam memang, setidaknya dapat hidup berdampingan. Maka angin berhembus membawa semua romansa yang ada.
Pada ujung hari, aku berdoa untuk satu wanita yang jauh disana. Semoga dia sehat dan selalu merasa bahagia. Semoga hari-hari menyenangkannya dibalut dengan ceria. Semoga dapat berbagi tawa kepada sesama.
Pada ujung hari, aku berdoa agar dia selalu disini menemani.
Kamis, 28 Februari 2019
Sabtu, 23 Februari 2019
Asumsi Tentang Sendiri
Sepi, sepertinya hal yang aku miliki saat ini. Sendiri selalu menemaniku, tak mengenal waktu dan tak peduli tempat. Walau tempat ini dikunjungi banyak orang dengan canda tawanya. Aku kehilangan sensasi akan hal ini.
Bagaimana bisa orang bertahan dengan kondisi ini? Melakukan ini itu secara mandiri. Berlari sendiri, berjalan sendiri. Dalam arah yang tak menentu. Waktu terus menggerusmu, tapi tak kunjung usai kesendirianmu. Apakah teriakan ini hanya semu?
Harus ku akhiri kesendirian ini. Sebelum sendiri menjadi pribadi yang tak bisa lepas dari hati. Rasa dan emosi yang hadir tak seharusnya diabaikan. Bisa jadi mati rasa akan melekat. Memandang kosong pada keindahan dunia dan alam semesta.
Sendiri, aku memiliki asumsi sendiri tentang menjalani. Untukku, sendiri bukan lagi perkara situasi atau orang-orang yang selalu pergi. Ini tentang bagaimana kita berjuang melawan diri sendiri. Ada sebuah pekerjaan yang baru setengah jadi dan belum usai. Sendiri akan menjadikan kualitas diri meningkat. Sendiri akan menjadikan jiwa kuat. Manfaatkan sendiri untuk menjabat dan mempererat.
Bagaimana bisa orang bertahan dengan kondisi ini? Melakukan ini itu secara mandiri. Berlari sendiri, berjalan sendiri. Dalam arah yang tak menentu. Waktu terus menggerusmu, tapi tak kunjung usai kesendirianmu. Apakah teriakan ini hanya semu?
Harus ku akhiri kesendirian ini. Sebelum sendiri menjadi pribadi yang tak bisa lepas dari hati. Rasa dan emosi yang hadir tak seharusnya diabaikan. Bisa jadi mati rasa akan melekat. Memandang kosong pada keindahan dunia dan alam semesta.
Sendiri, aku memiliki asumsi sendiri tentang menjalani. Untukku, sendiri bukan lagi perkara situasi atau orang-orang yang selalu pergi. Ini tentang bagaimana kita berjuang melawan diri sendiri. Ada sebuah pekerjaan yang baru setengah jadi dan belum usai. Sendiri akan menjadikan kualitas diri meningkat. Sendiri akan menjadikan jiwa kuat. Manfaatkan sendiri untuk menjabat dan mempererat.
Jumat, 15 Februari 2019
Kau Tak Berubah
Menjalani hari dengan sendiri bukanlah hal yang asing bagiku. Aktivitasku terlalu merepotkan untuk kau ikuti. Pemikiranku juga terlalu terbelakang untuk diselidiki. Biarkanlah aku hidup seperti ini. Bebas terbang kesana kemari hingga lupa diri.
Sudah sangat lama aku tak bersama dirimu. Tak ingin tahu engkau dimana dan bagaimana. Tapi alam semesta mempertemukan kita lagi, dengan skenarionya. Aku hanya menyapa untuk bercanda, kau tertawa dan menerima, sederhana.
Dua kursi dan satu meja untuk kita. Kau sudah menunggu dan aku baru tiba. Tanpa sebuah kata, hanya dengan senyuman kita buka. Saling memandang dalam beberapa detik yang terasa panjang. Meski sementara, tapi kita menikmatinya.
Ada yang berbeda dari saat terakhir kita bertemu. Apa yang telah kau lewati tanpaku, sekarang menjadikanmu. Tak ada masalah dari yang berubah. Bukan hal yang harus aku utarakan padamu. Apa yang berganti hanyalah kemasan, tampak luar yang tak perlu.
Tapi kau tetap sama. Senyuman dan tawa itu masih manis di bibirmu. Hingga caramu berbicara pun tak berubah. Tetap lepas bercerita seperti sedia kala. Tanpa beban, tanpa tekanan. Berbagi hidup di waktu kita tak bersama.
Caramu melihatku tak berubah. Meski dengan segala keadaanku, kau tak pernah memandang rendah. Matamu masih tetap bersinar seperti dulu. Aku tak pernah lagi melihat yang seperti milikmu. Mata yang pernah membuatku rindu.
Kau tak berubah. Caramu bercerita kepadaku, caramu berekspresi kepadaku, caramu tersenyum, caramu tertawa yang selalu membuatku bisu. Caramu melihat diriku, caramu menatap ke arahku, caramu mengungkapkan perasaan dibalik matamu yang dulu juga pernah aku rindu.
-caramu memandangku, tak berubah-
Sudah sangat lama aku tak bersama dirimu. Tak ingin tahu engkau dimana dan bagaimana. Tapi alam semesta mempertemukan kita lagi, dengan skenarionya. Aku hanya menyapa untuk bercanda, kau tertawa dan menerima, sederhana.
Dua kursi dan satu meja untuk kita. Kau sudah menunggu dan aku baru tiba. Tanpa sebuah kata, hanya dengan senyuman kita buka. Saling memandang dalam beberapa detik yang terasa panjang. Meski sementara, tapi kita menikmatinya.
Ada yang berbeda dari saat terakhir kita bertemu. Apa yang telah kau lewati tanpaku, sekarang menjadikanmu. Tak ada masalah dari yang berubah. Bukan hal yang harus aku utarakan padamu. Apa yang berganti hanyalah kemasan, tampak luar yang tak perlu.
Tapi kau tetap sama. Senyuman dan tawa itu masih manis di bibirmu. Hingga caramu berbicara pun tak berubah. Tetap lepas bercerita seperti sedia kala. Tanpa beban, tanpa tekanan. Berbagi hidup di waktu kita tak bersama.
Caramu melihatku tak berubah. Meski dengan segala keadaanku, kau tak pernah memandang rendah. Matamu masih tetap bersinar seperti dulu. Aku tak pernah lagi melihat yang seperti milikmu. Mata yang pernah membuatku rindu.
Kau tak berubah. Caramu bercerita kepadaku, caramu berekspresi kepadaku, caramu tersenyum, caramu tertawa yang selalu membuatku bisu. Caramu melihat diriku, caramu menatap ke arahku, caramu mengungkapkan perasaan dibalik matamu yang dulu juga pernah aku rindu.
-caramu memandangku, tak berubah-
Kamis, 14 Februari 2019
Hati yang Membisu
Lalu apa yang digores saat hati saja membisu?
Sepertinya sudah sangat lama hati ini dibiarkan membisu. Entah memang membisu atau hanya tak pernah didengarkan perkataannya. Tapi satu yang pasti, dia diabaikan apapun alasannya. Seperti barang tua yang sudah tak terawat, sudah lupa fungsinya, bagaimana cara menggunakannya. Jika bernilai materi, mungkin sudah diambil tukang rosok yang berjalan setiap pagi. Kotor, terabaikan, berkarat, rongsokan. Hanya bisa hidup jika berada pada tangan yang tepat.
Entah sejak kapan hati ini tak dapat bersuara. Seolah saat dia masih berfungsi tak pernah dihargai. Tak seorangpun yang mau mendengarkan suara hati ini. Sedikit lirih, intonasi yang berantakan dan serba-serbi kapasitas yang minim. Tangisnya tak pernah terdengar. Kesedihan yang dia rasakan selalu dipendam dalam. Terkadang rasa pedih dia biarkan agar waktu yang menyembuhkannya. Dan yang lebih menyedihkan, saat hati senang dia tak tahu bagaimana membagi kebahagiannya. Tak ada yang mengerti rasa bahagianya. Tak ada yang paham tentang semua yang ia rasakan. Mungkin dia sudah terlalu sakit hati.
Kenapa berbicara dengan hati terasa sulit? Satu perkataan jujur dari hati yang paling dalam, tempat tergelap pada hati. Satu saja, sekali saja biarkan dia lepas dari belenggu hitam yang menyelimutinya. Hanya perkataan sederhana tentang cinta dan sayang. Hal ini menyebabkan gelisah yang tak terdefinisikan. Terkadang juga menyebabkan pikiran berjalan dengan sendirinya. Individu ini akan kehilangan kontrol karena situasi ini. Mungkin apa yang dia katakan tentang cinta dan sayang terdengar bodoh, tapi tolong, sekali saja hargai dia. Sekali saja, tidak lebih.
Harapan yang dia miliki adalah ditemukan oleh orang yang tepat. Si pemilik hati bahkan tidak tahu dimana hatinya berada. Letak hati mungkin menjadi titik buta bagi orang ini. Saat dia ditemukan, hal ini mungkin akan menjadi sesuatu yang berarti baginya. Kenangan kecil yang akan dia bawa sampai menua kemudian tiada. Terdengar sepele memang, tapi tidak untuk dia. Ini adalah permulaan untuk kembali. Menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang sudah di skenario oleh Sang Pemilik Kehidupan. Manusia yang diharap-harapkan oleh banyak manusia lainnya. Serba positif. Maka bagi seseorang yang telah menemukan hati ini, percayalah bahwa kau telah membuat hidupnya berubah.
-jika cinta dan sayang mudah diucapkan, akan ku ucapkan setiap hari untuk dia yang pantas mendapatkannya-
Sepertinya sudah sangat lama hati ini dibiarkan membisu. Entah memang membisu atau hanya tak pernah didengarkan perkataannya. Tapi satu yang pasti, dia diabaikan apapun alasannya. Seperti barang tua yang sudah tak terawat, sudah lupa fungsinya, bagaimana cara menggunakannya. Jika bernilai materi, mungkin sudah diambil tukang rosok yang berjalan setiap pagi. Kotor, terabaikan, berkarat, rongsokan. Hanya bisa hidup jika berada pada tangan yang tepat.
Entah sejak kapan hati ini tak dapat bersuara. Seolah saat dia masih berfungsi tak pernah dihargai. Tak seorangpun yang mau mendengarkan suara hati ini. Sedikit lirih, intonasi yang berantakan dan serba-serbi kapasitas yang minim. Tangisnya tak pernah terdengar. Kesedihan yang dia rasakan selalu dipendam dalam. Terkadang rasa pedih dia biarkan agar waktu yang menyembuhkannya. Dan yang lebih menyedihkan, saat hati senang dia tak tahu bagaimana membagi kebahagiannya. Tak ada yang mengerti rasa bahagianya. Tak ada yang paham tentang semua yang ia rasakan. Mungkin dia sudah terlalu sakit hati.
Kenapa berbicara dengan hati terasa sulit? Satu perkataan jujur dari hati yang paling dalam, tempat tergelap pada hati. Satu saja, sekali saja biarkan dia lepas dari belenggu hitam yang menyelimutinya. Hanya perkataan sederhana tentang cinta dan sayang. Hal ini menyebabkan gelisah yang tak terdefinisikan. Terkadang juga menyebabkan pikiran berjalan dengan sendirinya. Individu ini akan kehilangan kontrol karena situasi ini. Mungkin apa yang dia katakan tentang cinta dan sayang terdengar bodoh, tapi tolong, sekali saja hargai dia. Sekali saja, tidak lebih.
Harapan yang dia miliki adalah ditemukan oleh orang yang tepat. Si pemilik hati bahkan tidak tahu dimana hatinya berada. Letak hati mungkin menjadi titik buta bagi orang ini. Saat dia ditemukan, hal ini mungkin akan menjadi sesuatu yang berarti baginya. Kenangan kecil yang akan dia bawa sampai menua kemudian tiada. Terdengar sepele memang, tapi tidak untuk dia. Ini adalah permulaan untuk kembali. Menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang sudah di skenario oleh Sang Pemilik Kehidupan. Manusia yang diharap-harapkan oleh banyak manusia lainnya. Serba positif. Maka bagi seseorang yang telah menemukan hati ini, percayalah bahwa kau telah membuat hidupnya berubah.
-jika cinta dan sayang mudah diucapkan, akan ku ucapkan setiap hari untuk dia yang pantas mendapatkannya-
Kamis, 07 Februari 2019
Wanita Senja
Tatapan kosongmu yang tenggelam dalam senja
Berat pikiran terkubur malah semakin membuas
Goresan senym memudar dilukir putus asa
Berat gurat penat yang ingin kau lepas
Duka nestapa bersemayam di wajah nan ayu
Terpancar semu dengan masalah di pundakmu
Sayu sorot matamu tak kuat tuk bersembunyi
Kesedihan yang kau kurung tak beranjak pergi
Sejuta rahasia mendekam kuat di pikiran
Tanpa daya tuk rebahan apalagi berjalan
Apa kau resah karena tak ada tempat tuk berpegang
Atau gelisah karena seorang pun yang kunjung datang
-matamu memancarkan sejuta beban yang kau tahan-
Berat pikiran terkubur malah semakin membuas
Goresan senym memudar dilukir putus asa
Berat gurat penat yang ingin kau lepas
Duka nestapa bersemayam di wajah nan ayu
Terpancar semu dengan masalah di pundakmu
Sayu sorot matamu tak kuat tuk bersembunyi
Kesedihan yang kau kurung tak beranjak pergi
Sejuta rahasia mendekam kuat di pikiran
Tanpa daya tuk rebahan apalagi berjalan
Apa kau resah karena tak ada tempat tuk berpegang
Atau gelisah karena seorang pun yang kunjung datang
-matamu memancarkan sejuta beban yang kau tahan-
Sikap Romantis
Hampir setiap perempuan di dunia mengharapkan kekasihnya melakukan suatu hal yang romantis untuk dirinya. Wanita desa, wanita kota, gadis SMA, wanita kerja, semuanya. Apa yang mereka harapkan? Diperlakukan seperti seorang ratu di suatu kerajaan. Mendapat perlakuan yang cukup jantan dari kekasih hatinya.
Seperti apa perlakuan romantis yang perempuan harapkan? Diberi bunga mawar dengan sedikit kejutan saat memberikannya. Dibawakan buah tangan saat kekasihnya melakukan perjalanan antar negara antar benua. Dibacakan puisi cinta dengan kata "aku pria paling beruntung di dunia karena memilikimu." Bernyanyi tentang harmoni kehidupan yang mereka lalui bersama. Sang kekasih selalu mengingat tanggal penting dalam kehidupannya. Memandang langit senja dengan kepalanya menyandar pada bahu. Atau mungkin tidur di tanah lapang dengan hiasan langit hitam dan titik-titik bintang.
Saya tidak pernah mengerti caranya menjadi seorang pria romantis. Sikap romantis sepertinya bukanlah diriku. Saya bukan sosok yang para wanita idam-idamkan. Jangan paksa aku untuk menjadi seperti itu. Tidak, saya tidak berasal dari lingkungan seperti itu.
Jika seorang wanita berkata saya bersikap romantis, saya tidak akan mengakuinya. itu bukan saya. Mungkin perlakuan itu berasal dari "saya" yang lain. Kepribadian nomor sekian yang tidak saya kenali. Sosok yang tiba-tiba menggantikan posisi "saya" sebagai jiwa dan raga.
Saya hanya memperlakukan wanita dengan pantas. Karena berhadapan dengan wanita maka saya harus tahu batas untuk menjaga. Mengendalikan sikap urakan, perkataan kasar, cara bercanda yang tahu kira-kira sampai mana, dam semua hal buruk dalam diri saya. Tidak ada perlukaan istimewa dari saya terhadap seorang wanita. Siapapun
"Aku pernah kenal satu orang. Seorang pria yang memperlakukanku dengan layak. Seorang pria dimana bertindak apa adanya, menjadi dirinya sendiri yang tidak kuduga. Menghabiskan waktunya, tenaganya dan pikirannya. Pria yang mengajarkanku cinta dengan cara sederhana, Tidak memberiku bunga, bahkan kata-kata mesra tidak pernah terlontar dari bibirnya. Cukup aku menjadi diriku sendiri dan dia menjadi dirinya sendiri. Kita hidup bersama, menjalani semunya bersama dan kita bahagia. Tapi dia...... aku tak pernah bisa mengartikannya, Karena dia hanyalah dia." kenang seorang wanita dengan goresan senyum diwajahnya.
-sayangnya, kata "romantis" tidak pernah ada dalam kamus kehidupanku-
Seperti apa perlakuan romantis yang perempuan harapkan? Diberi bunga mawar dengan sedikit kejutan saat memberikannya. Dibawakan buah tangan saat kekasihnya melakukan perjalanan antar negara antar benua. Dibacakan puisi cinta dengan kata "aku pria paling beruntung di dunia karena memilikimu." Bernyanyi tentang harmoni kehidupan yang mereka lalui bersama. Sang kekasih selalu mengingat tanggal penting dalam kehidupannya. Memandang langit senja dengan kepalanya menyandar pada bahu. Atau mungkin tidur di tanah lapang dengan hiasan langit hitam dan titik-titik bintang.
Saya tidak pernah mengerti caranya menjadi seorang pria romantis. Sikap romantis sepertinya bukanlah diriku. Saya bukan sosok yang para wanita idam-idamkan. Jangan paksa aku untuk menjadi seperti itu. Tidak, saya tidak berasal dari lingkungan seperti itu.
Jika seorang wanita berkata saya bersikap romantis, saya tidak akan mengakuinya. itu bukan saya. Mungkin perlakuan itu berasal dari "saya" yang lain. Kepribadian nomor sekian yang tidak saya kenali. Sosok yang tiba-tiba menggantikan posisi "saya" sebagai jiwa dan raga.
Saya hanya memperlakukan wanita dengan pantas. Karena berhadapan dengan wanita maka saya harus tahu batas untuk menjaga. Mengendalikan sikap urakan, perkataan kasar, cara bercanda yang tahu kira-kira sampai mana, dam semua hal buruk dalam diri saya. Tidak ada perlukaan istimewa dari saya terhadap seorang wanita. Siapapun
"Aku pernah kenal satu orang. Seorang pria yang memperlakukanku dengan layak. Seorang pria dimana bertindak apa adanya, menjadi dirinya sendiri yang tidak kuduga. Menghabiskan waktunya, tenaganya dan pikirannya. Pria yang mengajarkanku cinta dengan cara sederhana, Tidak memberiku bunga, bahkan kata-kata mesra tidak pernah terlontar dari bibirnya. Cukup aku menjadi diriku sendiri dan dia menjadi dirinya sendiri. Kita hidup bersama, menjalani semunya bersama dan kita bahagia. Tapi dia...... aku tak pernah bisa mengartikannya, Karena dia hanyalah dia." kenang seorang wanita dengan goresan senyum diwajahnya.
-sayangnya, kata "romantis" tidak pernah ada dalam kamus kehidupanku-
Selasa, 05 Februari 2019
Tiang Hitam
Sapamu selalu terdengar dari ujung jalan
Tawamu menggelegar tak memperdulikan tempat
Sering sekali kau buta akan waktu dan suasana
Lega dan bahagia tak pernah padam walau malam
Kau berikan hidupmu untuk melihat gurat senyum
Menjadi temanmu adalah dambaan semua orang, semua
Dirimu adalah penyangga semangat, tiang hitam lebam diam
Kuat tak bergetar, kokoh dan tak pernah goyah
Tapi temanmu tak pernah tahu lelahnya dirimu
Dimana kau buang semua kesedihan itu hingga hilang
Kepedihan yang kau pendam tampak dari matamu yang sayu
Kau sangat lelah, dihajar dunia dan tak mampu berdiri
Kau ingin melepas bebanmu, berbaring nyaman untuk sebentar saja
Tapi kau tak pernah tahu dengan siapa kau harus berbagi
-untuk mereka para tiang hitam yang lelah dan gundah-
Tawamu menggelegar tak memperdulikan tempat
Sering sekali kau buta akan waktu dan suasana
Lega dan bahagia tak pernah padam walau malam
Kau berikan hidupmu untuk melihat gurat senyum
Menjadi temanmu adalah dambaan semua orang, semua
Dirimu adalah penyangga semangat, tiang hitam lebam diam
Kuat tak bergetar, kokoh dan tak pernah goyah
Tapi temanmu tak pernah tahu lelahnya dirimu
Dimana kau buang semua kesedihan itu hingga hilang
Kepedihan yang kau pendam tampak dari matamu yang sayu
Kau sangat lelah, dihajar dunia dan tak mampu berdiri
Kau ingin melepas bebanmu, berbaring nyaman untuk sebentar saja
Tapi kau tak pernah tahu dengan siapa kau harus berbagi
-untuk mereka para tiang hitam yang lelah dan gundah-
Bayangan Tak Terlupakan
Setiap orang diciptakan selalu berbeda dengan orang lainnya. Bahkan mereka yang kembar pun tetap memiliki perbedaan. Lalu apa yang Tuhan inginkan dari perbedaan ini? Untuk saling menghargai? Agar menjadi berwarna? Atau Tuhan memang mempunyai sandiwara-Nya sendiri? Hal itu masih menjadi misteri bagiku.
Mereka datang di dalam hidupmu bukan tanpa sebab. Ya, saya percaya dengan sandiwara indah Tuhan. Bagiku, mereka yang datang memiliki arti tersendiri dalam hidupku. Tidak ada yang sama, selalu datang beragam jenis. Dari fisik yang sudah pemberian Tuhan, pilihan hidup yang mereka tentukan, selera terhadap makanan, film, buku, musik dan masih banyak lagi.
God Bless berkata bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Dimana setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan. Ada mereka yang menjadi dirinya sendiri, ada yang hanya berpura-pura, ada tokoh antagonis, protagonis, tokoh kunci dan pemain tambahan yang lewat begitu saja. Lalu apakah peran kita dalam kehidupan ini?
Saya percaya, mereka yang datang dan pergi dalam hidup saya membawa sebuah pelajaran yang tidak dibawa oleh tokoh lain. Mungkin saya tidak sadar, mungkin saya mengabaikan. Tetapi saya selalu tahu apa yang mereka ajarkan, cepat atau lambat. Mereka unik, beragam, mewarnai dinding cerita entah dengan kuas, semprotan, atau hanya cap tangan.
Kita tak pernah berharap mereka yang kita cintai pergi. Kepergian mereka bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan. Ini sesuatu yang berat dan kita harus merelakannya. Mungkin karena kehadirannya sudah cukup, waktu yang diberikan Tuhan sudah habis. Tetapi kita sering tak sadar. Kita tak pernah berani menggali lebih dalam.
Kau terus berharap untuk untuk tidak berpisah dengan mereka yang selalu menemani. Mereka selalu ada saat badai menerpa, saat taburan bintang menitik langit. Tapi mereka tetap pergi, dan untuk beberapa kepergian, kita tidak akan berjumpa lagi.
Temanmu tidak pernah ingin kita menangis saat dia pergi. Dia akan sangat menyesal bahwa dia gagal dalam mengajarkan hidup tegar. Dia akan kecewa saat kepergiannya sia-sia. Saat semua meneteskan air mata yang tidak seharusnya. Seperti itulah dia, selalu sok kuat dan sok berani. Mungkin kau tidak pernah tau rasanya kehilangan seorang teman yang berarti.
Mantanmu, sudah pergi dalam hidupmu. Mungkin kita mengutuk kepergiannya, mungkin kita akan mengakhiri dunia kita. Mengambil asumsi bahwa dia menjadi orang paling jahat di dunia, orang nomor satu yang ingin kita celakai. Tapi tidak seperti itu. Kau tahu, dia menunjukan cara menggunakan hati, menghidupkan cinta. Dia memberi arah, hati seorang pria tetaplah hati manusia. Satu ajaran penting yang akan saya ingat adalah "suatu hari akan datang orang yang jauh lebih pantas dariku, yang menghormati segala yang kita lakukan. Dan dia akan datang di pintu gerbang yang sama. Jadi kau tahu, pintu gerbang mana yang kau tunggu."
-untuk mereka yang saya tangisi kepergiannya-
Mereka datang di dalam hidupmu bukan tanpa sebab. Ya, saya percaya dengan sandiwara indah Tuhan. Bagiku, mereka yang datang memiliki arti tersendiri dalam hidupku. Tidak ada yang sama, selalu datang beragam jenis. Dari fisik yang sudah pemberian Tuhan, pilihan hidup yang mereka tentukan, selera terhadap makanan, film, buku, musik dan masih banyak lagi.
God Bless berkata bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara. Dimana setiap orang memiliki perannya masing-masing dalam kehidupan. Ada mereka yang menjadi dirinya sendiri, ada yang hanya berpura-pura, ada tokoh antagonis, protagonis, tokoh kunci dan pemain tambahan yang lewat begitu saja. Lalu apakah peran kita dalam kehidupan ini?
Saya percaya, mereka yang datang dan pergi dalam hidup saya membawa sebuah pelajaran yang tidak dibawa oleh tokoh lain. Mungkin saya tidak sadar, mungkin saya mengabaikan. Tetapi saya selalu tahu apa yang mereka ajarkan, cepat atau lambat. Mereka unik, beragam, mewarnai dinding cerita entah dengan kuas, semprotan, atau hanya cap tangan.
Kita tak pernah berharap mereka yang kita cintai pergi. Kepergian mereka bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan. Ini sesuatu yang berat dan kita harus merelakannya. Mungkin karena kehadirannya sudah cukup, waktu yang diberikan Tuhan sudah habis. Tetapi kita sering tak sadar. Kita tak pernah berani menggali lebih dalam.
Kau terus berharap untuk untuk tidak berpisah dengan mereka yang selalu menemani. Mereka selalu ada saat badai menerpa, saat taburan bintang menitik langit. Tapi mereka tetap pergi, dan untuk beberapa kepergian, kita tidak akan berjumpa lagi.
Temanmu tidak pernah ingin kita menangis saat dia pergi. Dia akan sangat menyesal bahwa dia gagal dalam mengajarkan hidup tegar. Dia akan kecewa saat kepergiannya sia-sia. Saat semua meneteskan air mata yang tidak seharusnya. Seperti itulah dia, selalu sok kuat dan sok berani. Mungkin kau tidak pernah tau rasanya kehilangan seorang teman yang berarti.
Mantanmu, sudah pergi dalam hidupmu. Mungkin kita mengutuk kepergiannya, mungkin kita akan mengakhiri dunia kita. Mengambil asumsi bahwa dia menjadi orang paling jahat di dunia, orang nomor satu yang ingin kita celakai. Tapi tidak seperti itu. Kau tahu, dia menunjukan cara menggunakan hati, menghidupkan cinta. Dia memberi arah, hati seorang pria tetaplah hati manusia. Satu ajaran penting yang akan saya ingat adalah "suatu hari akan datang orang yang jauh lebih pantas dariku, yang menghormati segala yang kita lakukan. Dan dia akan datang di pintu gerbang yang sama. Jadi kau tahu, pintu gerbang mana yang kau tunggu."
-untuk mereka yang saya tangisi kepergiannya-
Langganan:
Postingan (Atom)