Sendunya pancaran matahari, tak akan menyilaukan penglihatan kami. Empat remaja sedang memandang ke barat tanpa sedikitpun rasa penat. Meski angin terasa asin menerpa wajah ini. Bersama ombak yang pecah karena karang sulit terbelah.
Di penghujung masa sekolah, akan segera berkembang menjadi kuliah. Jalan kita memang tak sama, karena impian kitapun berbeda. Terpisah oleh waktu dan tak seharusnya saling merindu. Kupikir kuliah itu tentang belajar, mimpi-mimpi itu tentu kita kejar.
Enam bulan sekali kita bertemu. Bualan-bualan yang terlontar semakin maju dan baru. Hanya malam ini kita berdiskusi. Lalu besok tancap gas mengejar matahari. Tempat baru, suasana baru dan kalian sahabatku. Nikmat dari Sang pencipta, apa adanya dan mengena.
Pada matahari di ujung barat, kuharap aku tak sepertimu. Teman-temanku tak sepertimu. Semoga usia terang kita lama, karena kita tak terburu-buru senja. Kita tak berharap menjadi sore yang sakit-sakitan ataupun senja yang tak kuat berjalan. Manusia bukanlah hal logis layaknya perhitungan matematis. Hanya Yang Maha Kuasa yang menentukan waktu kita terbenam. Tak seperti matahari ini yang akan segera tenggelam.